• Jelajahi

    Copyright © Koresponden
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan 3

    Iklan 2

    Iklan

    Kelola Sampah dari Sumbernya, Pemdes Lambangsari Dukung Gerakan Hijau Warga Summer Festival

    koresponden
    Sabtu, Agustus 29, 2026, 14.38 WIB Last Updated 2026-08-29T07:39:46Z


    Bekasi, koresponden.id – Pemerintah Desa Lambangsari terus mendorong penguatan gerakan peduli lingkungan berbasis masyarakat. Salah satunya melalui monitoring langsung kegiatan pengelolaan lingkungan di Cluster Summer Festival Grandwisata, RW 20, Desa Lambangsari, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi. Sabtu (29/08/2026).


    Dalam kegiatan tersebut, Pemerintah Desa Lambangsari meninjau pembuatan lubang resapan biopori sekaligus melihat langsung berbagai inovasi pengelolaan lingkungan yang dikembangkan warga, mulai dari pengelolaan sampah berbasis bank sampah, pembesaran maggot, hingga pembuatan eco enzyme.


    Kepala Desa Lambangsari, Pipit Haryanti, mengapresiasi langkah warga RW 20 yang secara konsisten mengembangkan kegiatan lingkungan secara mandiri. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan program pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.


    “Pemerintah desa akan terus mendorong dan mendukung berbagai kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Apa yang dilakukan warga RW 20 ini sangat positif karena bukan hanya menjaga kebersihan, tetapi juga bagaimana sampah bisa dikelola dan memberikan manfaat,” ujar Pipit.


    Ia menilai pengelolaan sampah melalui bank sampah dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipilah, dikumpulkan, dan dimanfaatkan kembali sehingga tidak seluruhnya berakhir sebagai limbah.


    Menurut Pipit, konsep tersebut juga dapat membangun kesadaran masyarakat agar mulai memandang sampah bukan semata-mata sebagai barang buangan, melainkan sebagai sesuatu yang masih memiliki nilai apabila dikelola dengan baik.



    Selain pengelolaan sampah melalui bank sampah, Pipit juga meninjau kegiatan pembesaran maggot yang dilakukan warga. Budidaya maggot dinilai memiliki manfaat ganda karena dapat membantu mengolah sampah organik, khususnya sisa makanan, sekaligus menghasilkan maggot yang memiliki nilai guna dan berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun ikan.


    “Ini merupakan inovasi yang sangat baik. Sampah organik bisa dimanfaatkan untuk budidaya maggot sehingga jumlah sampah yang dibuang bisa dikurangi. Di sisi lain, hasilnya juga bisa dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai ekonomi,” katanya.


    Tak hanya itu, Pemerintah Desa Lambangsari juga melihat proses pembuatan eco enzyme yang dikembangkan warga. Cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga dan lingkungan setelah melalui proses pengolahan yang tepat.


    Pengembangan eco enzyme juga dinilai sejalan dengan upaya mengurangi sampah organik dari sumbernya. Dengan memanfaatkan sisa bahan dapur sebagai bahan baku, masyarakat dapat mengurangi limbah yang berpotensi menimbulkan bau maupun menambah beban pengangkutan sampah.


    Sementara itu, salah satu warga sekaligus penggiat lingkungan hidup, Lastri, mengatakan pengelolaan sampah berbasis bank sampah memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, keberadaan bank sampah tidak hanya membantu menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mendorong warga untuk terbiasa memilah sampah sejak dari rumah.


    “Manfaatnya sangat banyak. Warga jadi belajar memilah sampah, mana yang organik dan anorganik. Sampah yang masih memiliki nilai bisa dikumpulkan melalui bank sampah, sementara sampah organik dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain seperti maggot dan eco enzyme,” ujar Lastri.


    Ia berharap semakin banyak warga yang terlibat sehingga pengelolaan sampah tidak hanya dilakukan oleh kelompok tertentu, tetapi menjadi kebiasaan bersama di lingkungan masyarakat.


    Menurut Lastri, keberhasilan pengelolaan lingkungan sangat bergantung pada konsistensi serta kesadaran masyarakat. Karena itu, edukasi dan pendampingan secara berkelanjutan diperlukan agar warga memahami bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana di rumah masing-masing.


    “Untuk maggot, dalam waktu sekitar satu bulan lebih kami sudah dua kali panen. Hasilnya juga memiliki nilai ekonomis yang cukup lumayan. Kalau eco enzyme, saat ini hanya untuk kebutuhan warga saja. ” sambungnya.


    Selain pengelolaan sampah, pembuatan lubang resapan biopori di RW 20 juga menjadi bagian dari upaya warga dalam meningkatkan daya resap tanah. Lubang biopori dapat membantu air hujan lebih cepat meresap ke dalam tanah sekaligus menjadi ruang penguraian bahan organik.


    Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara terpadu, mulai dari mengurangi dan memilah sampah, memanfaatkan sampah organik melalui maggot dan eco enzyme, hingga meningkatkan resapan air melalui biopori.


    Pemerintah Desa Lambangsari berharap praktik baik yang dilakukan warga RW 20 dapat menjadi contoh bagi wilayah lain untuk membangun kesadaran lingkungan berbasis masyarakat. Dengan kolaborasi antara pemerintah desa dan warga, persoalan sampah tidak hanya ditangani setelah menjadi masalah, tetapi dicegah sejak dari sumbernya.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini