Jakarta, koresponden.id – Suasana hangat terasa di Rumah Baca Zhaffa pada Jumat (22/5/2026) sore. Puluhan pegiat literasi dari DKI Jakarta dan Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, berkumpul dalam kegiatan bertajuk “Bertukar Cerita, Menguatkan Gerakan TBM: Praktik Baik Literasi dan Kolaborasi dari Malinau dan Jakarta”.
Kegiatan yang diinisiasi Forum Taman Bacaan Masyarakat (Forum TBM) bersama Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia atau INOVASI itu menjadi ruang berbagi pengalaman, strategi, serta penguatan kolaborasi antarpengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM).
Gerakan TBM saat ini dinilai tidak lagi sekadar menyediakan buku bacaan, tetapi telah berkembang menjadi pusat pemberdayaan masyarakat berbasis literasi. Pertemuan antara pegiat dari Jakarta dan Malinau pun menjadi contoh bagaimana dua wilayah dengan karakteristik berbeda dapat saling belajar dan bertukar praktik baik.
Kegiatan diawali dengan permainan literasi numerasi interaktif yang melibatkan para peserta. Sebanyak 35 orang hadir dalam acara tersebut, termasuk delegasi dari Kabupaten Malinau, yakni Zsa Zsa Suhartiningtyas selaku pengelola TBM Lasan Baca, Belvi sebagai Ketua Ikatan Keluarga Baca Malinau (IKBM), serta Kepala Desa Kuala Lapang, Yeyen Meiasim.
Ketua Umum Forum TBM, Opik, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kolaborasi lintas daerah menjadi energi penting bagi penguatan ekosistem literasi nasional. “Ruang dialog seperti ini penting untuk melahirkan strategi dan pendekatan baru dalam mengembangkan budaya baca di masyarakat,” ujarnya.
Diskusi yang dipandu Heni Wardatur Rohmah itu membahas berbagai strategi pengembangan TBM melalui dukungan lintas sektor, baik pemerintah maupun swasta.
Kepala Desa Kuala Lapang, Yeyen Meiasim, membagikan pengalamannya dalam mengembangkan gerakan literasi di wilayahnya. Ia mengaku aktif di dunia TBM menjadi salah satu modal penting hingga akhirnya dipercaya masyarakat menjadi kepala desa.
Menurut Yeyen, keberhasilan meyakinkan masyarakat untuk mendukung pengalokasian dana desa bagi program literasi terletak pada dampak nyata yang dirasakan warga, terutama terhadap perkembangan karakter dan kemampuan anak-anak.
“Ketika masyarakat melihat manfaatnya secara langsung, dukungan terhadap TBM menjadi semakin kuat,” katanya.
Ia juga mendorong para pegiat literasi aktif mengawal program literasi melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di tingkat RW maupun desa.
Sementara itu, Zsa Zsa Suhartiningtyas dari TBM Lasan Baca Malinau mengungkapkan bahwa kiprahnya di dunia literasi berawal dari keprihatinannya terhadap seorang siswa kelas 4 SD yang belum mampu membaca. Menurutnya, perjuangan di bidang literasi membutuhkan konsistensi dan dedikasi tinggi, terlepas dari ada atau tidaknya dukungan anggaran.
“Pengabdian untuk mencerdaskan anak bangsa tidak boleh berhenti hanya karena keterbatasan dana,” ujarnya.
Ketua IKBM Malinau, Belvi, juga menjelaskan tantangan mengelola gerakan literasi di wilayah yang mencakup 15 kecamatan tersebut. Untuk menjaga komunikasi dan keberlanjutan program, pihaknya memanfaatkan grup WhatsApp serta media sosial seperti Instagram.
“Awalnya memang ada kendala dalam penggunaan teknologi, tetapi sekarang dokumentasi kegiatan literasi mulai tertata dan semakin dikenal luas,” katanya.
Dari perspektif perkotaan, pengelola Rumah Baca Zhaffa, Yudy Hartanto, menceritakan perjalanan rumah baca yang telah berdiri selama 18 tahun di kawasan Manggarai, Jakarta Selatan.
Ia mengenang perjuangan membangun gerakan literasi pada masa ketika media sosial belum berkembang seperti sekarang. Saat itu, dirinya harus menyebarkan pamflet secara manual untuk mencari dukungan dan donasi buku.
Kini, Rumah Baca Zhaffa telah berkembang melalui kerja sama dengan kampus, perusahaan swasta, instansi pemerintah, hingga media massa. Program yang dijalankan pun meluas, mulai dari bimbingan belajar gratis hingga penguatan enam literasi dasar bagi masyarakat.
Diskusi turut diperkaya pemaparan Agus Prayitno selaku Provincial Manager INOVASI Kalimantan Utara yang menyoroti pentingnya sinergi antara komunitas, pemerintah desa, dan mitra sipil dalam membangun gerakan literasi berkelanjutan.
Menjelang akhir acara, Ketua Forum TBM DKI Jakarta, Virgina, menutup rangkaian kegiatan dengan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta dan pihak pendukung.
Kegiatan kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama dan ramah tamah yang mempererat hubungan antarpenggerak literasi dari Jakarta dan Malinau.
Forum tersebut menjadi bukti bahwa gerakan literasi dapat tumbuh melalui dialog, kolaborasi, dan komitmen bersama lintas daerah.
(Red)



